INTIP24NEWS – Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov mengatakan, dukungan berkelanjutan Washington untuk Kiev selama operasi militer Moskow telah menempatkan AS menjadi bagian dalam konflik Ukraina.
“Kami tidak ingin eskalasi. Kami ingin menghindari situasi, di mana AS menjadi pihak dalam konflik, tetapi sejauh ini kami tidak melihat kesiapan pihak lain untuk menanggapi peringatan ini dengan serius,” kata Ryabkov kepada saluran TV Rossiya 1 pada hari Jumat.
Ryabkov menegaskan, “Moskow menolak penjelasan Washington, bahwa memberikan Ukraina senjata dan bantuan lainnya dibenarkan oleh hak Kiev untuk membela diri,” katanya.
“Pembelaan diri macam apa jika mereka sudah secara terbuka berbicara tentang kemungkinan menyerang target jauh di wilayah Rusia, di Krimea?” tanya pejabat itu
“Keterlibatan yang semakin jelas dan lebih dalam di Ukraina dalam operasi militer kita, pada kenyataannya, menempatkan negara ini (AS), di ambang menjadi pihak yang berkonflik,” tegasnya.
AS telah menjadi pendukung terkuat Kiev di tengah konflik dengan Rusia, memberi Kiev miliaran dolar dalam bentuk bantuan militer dan keuangan, serta data intelijen.
Pengiriman mikiter Washington ke Ukraina termasuk perangkat keras canggih seperti peluncur roket ganda HIMARS, howitzer M777, dan drone tempur.
Reuters melaporkan pada hari Jumat bahwa Presiden AS Joe Biden akan mengumumkan paket bantuan strategis lainnya untuk Kiev sekitar USD800 juta.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Politico pada hari Kamis bahwa Gedung Putih tidak memiliki masalah dengan Ukraina yang menyerang langsung Krimea, yang menjadi bagian dari Rusia setelah referendum 2014 sebagai tanggapan atas kudeta kekerasan di wilayah itu.
“AS percaya bahwa Kiev dapat menyerang target apa pun di wilayahnya, dan “Krimea adalah Ukraina”, pejabat Amerika itu bersikeras.
Baru-baru ini terjadi sejumlah ledakan di dekat gudang amunisi Rusia dan di lapangan terbang militer di Krimea, yang menurut Kementerian Pertahanan adalah tindakan “sabotase”.
Namun, pihak berwenang Ukraina belum secara resmi mengkonfirmasi keterlibatan dalam serangan tersebut.
Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, dengan alasan kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang untuk memberi wilayah Donetsk dan Lugansk status khusus di dalam negara Ukraina.
Protokol, yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada tahun 2014. Sejak itu, mantan Presiden Ukraina Pyotr Poroshenko mengakui bahwa tujuan utama Kiev adalah menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan “menciptakan angkatan bersenjata yang kuat”.
Pada Februari 2022, Kremlin mengakui republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun.
Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.
Sumber: RT
Editor: Hasan M
















































