Tangsel, intip24news.com – Terpilihnya kembali H. Benyamin Davnie sebagai Wali Kota Tangerang Selatan dan H. Pilar Saga Ichsan sebagai Wakil Wali Kota Tangerang Selatan untuk Masa Jabatan 2025-2030 mendapat kritikan tajam. Mereka dinilai gagal membawa perubahan yang signifikan di periode sebelumnya.
Sorotan dan kritikan tajam salah satumya datang dari tokoh masyarakat Tangerang Raya yaitu Zulkarnain, atau yang akrab disapa Bang Zul.
Menurut Bang Zul, ada sosok yang membayangi dan berperan dibalik kebijakan dan pengambilan keputusan Walikota Tangerang Selatan tersebut.
Sosok yang diduga sebagai penguasa di balik layar ini dikabarkan berasal dari kalangan pejabat di Sekretariat Daerah (Setda) dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Tangsel.
“Diduga ada dua sosok berinisial B (laki-laki) dan A (perempuan) yang selama ini berperan sebagai Walikota dan Wakil Walikota bayangan. Mereka justru dianggap sebagai penghalang kebijakan strategis pemerintahan Kota Tangsel sejak awal Benyamin – Pilar menjabat,” ujar Bang Zul saat diwawancarai wartawan, Kamis (20/3/2025).
Bang Zul menegaskan bahwa Tangsel saat ini menghadapi berbagai persoalan krusial yang belum terselesaikan. Di antaranya kemacetan yang semakin parah tanpa solusi konkret. Masalah banjir yang terus terjadi meski sudah berulang kali dijanjikan penanganan. Pengelolaan sampah yang buruk, menyebabkan banyak tumpukan sampah di berbagai sudut kota.
Pedagang kaki lima yang semakin menjamur tanpa ada penataan dari pemerintah. Pasar-pasar milik pemerintah yang justru sepi dan terbengkalai, menimbulkan kerugian bagi pedagang kecil.
“Sekda Tangsel seharusnya bertanggung jawab atas kondisi ini. Tapi, mana program kerjanya? Hasilnya nol besar!” tegas Zul.
Sebagai solusi, Zul menyarankan langkah tegas agar pemerintahan Tangsel bisa lebih baik ke depannya:
“Ganti Sekda Tangsel dengan sosok yang lebih kompeten dan memiliki visi yang jelas.
Lakukan restrukturisasi di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Tangsel agar lebih efektif dalam menjalankan kebijakan. Transparansi dalam pengelolaan anggaran agar tidak ada penyalahgunaan yang merugikan masyarakat. Melibatkan lebih banyak partisipasi Publik dalam pengambilan keputusan strategis. Penataan ulang perizinan dan tata kota agar pembangunan lebih terarah dan bermanfaat bagi warga,” jelasnya.
“Kalau tidak ada perubahan, Tangsel akan terus terjebak dalam kondisi darurat yang tak berkesudahan. Warga membutuhkan pemimpin yang benar-benar bekerja, bukan sekadar janji tanpa realisasi,” imbuhnya.
“Situasi ini semakin menambah tekanan bagi pemerintahan Benyamin-Pilar, yang diharapkan segera mengambil langkah konkret, untuk membenahi berbagai permasalahan yang ada. Jika tidak, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat akan semakin menurun, dan gelombang kritik akan semakin besar,’ tutupnya.
Selain itu, pengurus Paguyuban Pedagang Rakyat (PAPERA) Kota Tangsel, Hj.Elsye Martinely juga menyoroti kondisi birokrasi yang dinilai masih dikuasai oleh pejabat era lama, yang justru menghambat kemajuan.
“Semua pejabat lama seharusnya dicopot karena pemerintahan saat ini masih seperti benang kusut. Pembangunan banyak yang molor dan alasannya pun tidak masuk akal.
Kami curiga banyak aktivis di Tangsel yang justru diam, mungkin sudah ‘masuk angin’,” sindir Hj.Elsye Martinely.
( dms)















































