INTIP24NEWS – Hungaria menghindari terseret dalam konflik di Ujraina, namun memiliki rencana militer untuk melindungi etnis Hungaria yang tinggal di Ukraina barat.
Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto mengungkapkan dalam sebuah wawancara pada hari Jumat bahwa Budapest siap bertindak membela 150.000 warganya.
“Negara kami telah menyiapkan skenario perang darurat,” kata menteri tersebut kepada situs berita Index.
Meski dia mengatakan pemerintah Hungaria ingin menghindari menggunakan mikiternya, itulah sebabnya mereka mencari resolusi damai dari konflik bersenjata Rusia-Ukraina.
Sementara itu Kiev telah lama menuduh Budapest mendorong pemisahan diri di antara diaspora Hongaria, termasuk dengan diam-diam memberikan kewarganegaraan kepada etnis Hongaria.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak gagasan konsesi ke Rusia untuk mengamankan gencatan senjata, dan mengklaim negaranya dapat mengalahkan Rusia dengan bantuan pendukung Barat.
Menteri luar negeri Hungaria mengatakan negaranya memiliki kepentingan yang berbeda dari Ukraina.
“Dan apa kepentingan Ukraina?
Melibatkan sebanyak mungkin negara dalam konflik ini, setidaknya melalui pengiriman senjata. Kepentingan kami di sisi lain adalah untuk menghindari konflik ini dan meminimalkan risiko terseret ke dalam perang,” kata Szijjarto.
Szijjarto mengklaim bahwa setelah Rusia menyerang Ukraina, Budapest menutup semua masalah yang menyebabkan ketegangan dengan Kiev sebelumnya.
Pada tahun 2018, Kiev menendang konsul Hongaria di kota Beregovo karena masalah ini.
Staf misi tersebut sebelumnya tampak membagikan dokumen kewarganegaraan kepada warga Ukraina Hungaria dan menginstruksikan mereka untuk merahasiakannya.
Hubungan antara kedua negara memburuk pada tahun 2017, setelah Kiev mengadopsi undang-undang yang menetapkan peta jalan untuk menghapus bahasa minoritas dari sekolah-sekolah Ukraina.
Budapest mengatakan itu diskriminatif terhadap etnis Hungaria dan berjanji untuk menghalangi rencana Ukraina untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa kecuali undang-undang tersebut dibatalkan.
Terlepas dari penilaian Szijjarto bahwa ketegangan telah berlalu, negaranya telah menerima kritik keras dari Kiev dalam beberapa bulan terakhir.
Pada bulan Mei, Wakil Perdana Menteri Ukraina Irina Vereshchuk menuduh Budapest telah menyesuaikan diri dengan Rusia karena “gas murah”-nya, dan diam-diam ingin merebut bagian Ukraina yang mayoritas penduduknya Hungaria.
Sumber: RT
Editor: Hasan M
















































