Oleh: KH. Ronggosutrisno
Gedung Juang 45 atau sering disebut Gedung Juang Bekasi merupakan situs sejarah perjuangan pahlawan Bekasi. Gedung ini dapat dikatakan sebagai saksi bisu atas perlawanan para pemuda Indonesia khususnya yang ada di Bekasi dan sekitarnya terhadap penjajahan Belanda.
Gedung yang yang biasa dikenal dahulu dengan sebutan Gedung Tinggi ini terletak di Jalan Sultan Hasanudin No. 39, Setiadarma, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Pada saat masa pendudukan Belanda terjadi peperangan yang mengakibatkan Warga Tambun dan Cibarusah menjadikan Gedung Juang 45 ini sebagai benteng perjuangan serta pertahanan untuk memperebutkan kemerdekaan Indonesia.
Gedung Juang yang berdiri sejak tahun 1906 setelah terbengkalai cukup lama, akhirnya Gedung ini disulap menjadi Museum Digital dengan menggunakan APBD pada 2020 senilai Rp38 miliar dan diresmikan pada 20 Maret 2021. Museum ini merupakan Museum Bekasi pertama yang mengusung konsep teknologi digital dan modern.
Jika kita menengok sejarah masa lalu, sejarah Bekasi penuh dengan perjuangan para pahlawan. Perjuangan itu kini direpresentasikan dengan berdiri kokohnya Gedung Juang 45 ini. Hal mana seharusnya menjadi tempat edukasi tentang sejarah perjuangan rakyat Bekasi, namun belakangan justru viral di museum kebanggaan orang Bekasi bahwa ada cafe di dalamnya.
Pro kontra kehadiran Cafe dengan nama ‘My Kopi O’ yang menggunakan bagian bangunan Museum Digital Gedung Juang menjadi topik hangat pemberitaan beberapa hari ini.
Sebagian pihak menyebut, My Kopi O itu dihadirkan sebagai magnit untuk daya tarik pariwisata dan pengunjung yang datang dari luar Bekasi setelah berkunjung ke museum digital tersebut.
Pihak lain berpendapat bahwa kehadiran My Kopi O dinilai tidak tepat. Daripada dijadikan tempat ngopi, mending dibuat museum budaya.
Seperti contohnya, di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, dan lainnya, bangunan tua banyak. Pemerintahan daerah merapihkan bangunan tua untuk dijadikan pusat budaya.
Mungkin saja, Gedung Juang 45 yang mengalami dua tahunan direnovasi dan dilengkapi dengan tehnologi digital ini tentu memerlukan anggaran untuk operasionalnya. Mungkin saja kontrak untuk waeung kopi bahasa kerennya Cafe kopi untuk menutupi biaya pemeliharaan gedung tersebut. “Sekali lagi mungkin”.
Disisi lain, timbul pertanyaan dari warga sekitar Gedung Juang ‘kenapa cuma my kopi saja yang boleh berjualan di dalam area gedung. Kenapa kami warga sekitar tidak diperbolehkan. Ada apakah gerangan?’
Revitalisasi Gedung Juang yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni tahun 2020. Tujuannya untuk dijadikan pusat budaya. Dengan kata lain, Pemkab Bekasi menjadikan gedung perjuangan itu sebagai miniatur pusat kebudayaan Bekasi.
Senada dengan itu, mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menilai, Kabupaten Bekasi memiliki nilai historikal yang kuat.
Dari sisi moderisme, Kabupaten Bekasi tumbuh pesat industrialisasi dan properti di wilayah itu. Namun akar masa lalunya tidak terpotret dengan baik, sehingga potret itu diharapkan akan terwujud di Gedung Juang. Gedung Juang ini, menurut dia, nantinya akan bercerita tentang sejarah peradaban Bekasi.
Bagi yang memahami perjuangan para pejuang kemerdekaan di Bekasi tentu merasa sedikit terusik dengan keberadaan cafe ini. Apalagi tidak ada kejelasan konsep dan korelasinya dengan keberadaan dan fungsi dari situs cagar budaya Gefung Juang ini. Plus, kesan adanya pilih kasih yang dirasakan warga sekitar yang berkeinginam pula membuka usaha sejenis dengan cafe tersebut.
Menyaksikan kehadiran kondisi itu semua membuat saya mengelus dada sambil memaklumkan diri sendiri. Lantas ada tanya menyusup dalam benak pikiran. Sebagai kota industri modern terbesar di Asia Tenggara perlukah keberadaan sebuah cafe untuk menutupi biaya operasional cagar budaya dan musium digital Gedung Juang Bekasi ini.
Tidak adakah CSR dari 7000 an pabrik di Bekasi untuk meng-cover biaya operasional serta pemeliharaan GEDUNG JUANG KOTA PATRIOT BEKASI. Entah lah…
Perlu diingat, di tanah air Indonesia cuma ada dua Kota yang kepadanya disematkan ‘kepalawanan’ yakni Surabaya KOTA PAHLAWAN dengan BUNG TOMO sebagai TOKOH SENTRAnya dan BEKASI KOTA PATRIOT dengan KH NOER ALI sebagai TOKOH PENGGERAK KEPAHLAWANANnya.
Maaf, jangan lukai perjuangan kami.
Pahlawan, padamu kami mengadu.
KH. Ronggosutrisno Tahir



















































