Antara tahun 2008 dan 2009, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melakukan Operasi Cast Lead dan memasuki wilayah Gaza – tentaranya mengalami kerugian kecil, namun secara resmi berhasil.
Namun, semuanya kembali seperti semula.
Operasi besar berikutnya, yang disebut Cloud Pillar, dilakukan pada tahun 2012. Pada saat itu, Israel menganggap serangan terus-menerus di wilayah mereka sebagai bencana yang tak terhindarkan.
Namun demikian, serangan Israel ke Gaza juga sudah menjadi hal yang rutin.
Secara bertahap, Israel mengerahkan Iron Dome – sistem pertahanan rudal yang besar dan andal yang sangat mengurangi kerusakan akibat penembakan.
Eskalasi baru terjadi pada tahun 2014 (Operasi Batuan yang Tidak Dapat Dihancurkan), di mana Israel kehilangan 66 tentara dan beberapa wilayah Gaza hancur total oleh tembakan artileri berat.
Korban yang diderita selama Operasi Indestructible Rock menyebabkan diskusi hangat di Israel. Untuk waktu yang lama setelah itu, IDF tidak berusaha masuk lebih jauh ke dalam wilayah kantong tersebut.
Namun, setelah pertempuran tahun 2014, Israel menemukan apa yang tampak sebagai pusat keseimbangan.
Iron Dome berhasil melindungi mereka dari rudal yang ditembakkan dari dalam Gaza.
Seluruh perimeter Gaza dijaga oleh divisi Gaza, dan pertahanannya sangat bergantung pada teknologi canggih – kamera dan menara senapan mesin yang dikendalikan dari jarak jauh ditempatkan di sepanjang perimeter.
Pada tahun-tahun berikutnya, ketegangan di perbatasan berkurang dan rasa bahaya di kalangan warga Israel pun mereda.
Unit-unit siap tempur disingkirkan dari perbatasan Gaza, dan IDF secara bertahap berubah menjadi tentara masa damai.
Namun permasalahan mendasarnya masih tetap ada.
Di sisi lain pagar yang dibangun oleh Israel, terdapat daerah kantong besar di mana dua juta orang hidup tanpa pekerjaan, prospek masa depan, atau uang, dan dipimpin oleh sebuah organisasi militan.
Namun ketika Israel menjadi kurang waspada, para pemimpin Hamas menaruh perhatian besar terhadap apa yang terjadi di balik tembok tersebut.
Pada tanggal 7 Oktober, menjadi jelas bahwa ‘melupakan’ Gaza bukanlah suatu pilihan. Pagar perbatasan diledakkan, dan ratusan militan menyerbu Israel.
























































